Minggu, 25 Juli 2010

West Coast Friendship




Mereka adalah teman-teman saya di tahun terakhir saya di SMA. Yang membuat saya kadang lupa pada tahun krusial yang sebenarnya tengah saya jalani. Sebagaimana kata-kata standar anak-anak SMA yang baru lulus, masa SMA terasa begitu singkat dan tidak terasa sudah kita lalui. Saya juga mau bilang itu, terutama pada kelas terakhir saya di SMA. Beberapa minggu lalu kami farewell di rumah Irham Khairin. Walaupun sayang juga karena ada beberapa yang tidak hadir, tapi saya sangat menikmati farewel itu. Kami menginap di rumah Irham pada malam final Piala Dunia 2010 dan nonton bareng pertandingannya. Hanya itu, hanya nonton bareng dan BBQ sebelumnya. 

Sebenarnya belum apa-apa saya sudah kangen kelas ini. Saya kangen belajar fisika bersama Pak Suryo dan West Coast, suara gitar Gicung dan Sekar, ledekan-ledekan ala West Coast yang selalu 'kurang ajar' sebenarnya tapi juga selalu sukses membuat tawa seisi kelas, yah, saya kangen semuanya. 

Saya mau bilang terima kasih, pada West Coast, XII IPA 4 Emperor, karena sudah membuat saya tidak berhenti tertawa dari jam tujuh pagi sampai setengah empat sore. Semoga sukses di tempat kita masing-masing nanti :))

Terima kasih banyak West Coast!!


P.S. : Din, Mud, Sab, Fan, Bas, Zah, thanks for coloring my high school day. I love you all dear.

Jumat, 09 Juli 2010

VIRUS

keliling - air liur - virion
tertusuk -pasrah - ya sudah
memangnya salah
tidak tahu - benar tidak mau
tolong jangan bilang-bilang
nanti aku malu

Sabtu, 26 Juni 2010

"Saya Merdeka dan Tidak Dijajah oleh Cinta Buta"

Pagi ini hujan, jas hujan dan payung warna-warni orang yang melintas menghiasi trotoar. Dua teman lama, bertemu lagi di kedai kopi. Dengan secangkir kopi dan sepiring wafel madu di hadapan mereka.
“Jadi,” Hamidah berkata setelah menyesap kopinya. “Kenapa?”
Yulia yang memang mengajak Hamidah untuk berjumpa lagi tersenyum kecil, “ini sesuatu yang susah dideskripsikan.”
“Kakek saya ilmuwan, ayah saya dokter, saya mencintai ilmu pasti. Makanya saya merasa segalanya bisa dijelaskan. Segala hal punya definisi.”
“Tapi ada beberapa hal yang lebih baik tidak kita ketahui definisinya, mungkin akan jadi terasa lebih sensasional ketika kita tidak tahu.”
Hamidah tersenyum kecil. “Silakan saja kalau ingin berbagi.”
Tentu saja Yulia tahu bagaimana insting Hamidah. “Patetis, saya merasa hilang kendali untuk hal ini. Saya merasa setir saya ada pada dia. Mungkin ini dependensi berlebihan yang saya tahu berbahaya, masalahnya saya tidak tahu bagaimana mengatasinya. Saya panik saat menyadari bahwa apapun perasaan ini jadi lebih complicated. Apalagi ketika menyadari bahwa ada beberapa poin dari dia yang perlahan berubah.” Dia terdiam lalu melanjutkan “Walaupun terlalu naif kalau kita menjajikan pribadi yang tidak akan berubah. Kita semua berkembang, kita berubah karena interaksi. Interaksi sosial yang berjalan otomatis. Yah, memang ada hal-hal alami yang tidak bisa kita ubah.”
“Dunia ini kan memang bukan plastisin, Yulia.”
“Saya ingin tahu Hamidah, apa menurut anda cinta punya makna ambigu? Atau justru indefinit?”
“Menurut saya, cinta itu universal, dan tidak sedangkal satu tangkai mawar, cinta itu rela menghisap ingus bayinya dengan mulut, cinta itu berani melawan senapan dengan bambu runcing, dan saya kurang yakin cinta butuh krim anti-aging.”
“Cinta bisa menjadi polydefinit, ingat, cinta juga bisa berarti kecocokan feromon. Tidak selamanya cinta itu indefinit. Saya penasaran, apa anda masih menyayanginya?”
“Iya. Yang definit itu kebersamaan, kebersamaan butuh alasan, tentu saja saya menyayanginya, tapi itu bukan alasan untuk sebuah kebersamaan.”
“Lalu?”
“Zona nyaman. Dan juga mungkin adiksi. Tahu kan, satu perasaan kehilangan kalau sedang tidak bersama-sama. Maka, ketika saya mulai bertanya-tanya kenapa fluktuasi hormon saya terasa selalu tinggi kalau bersamanya dan satu hari tanpa kebersamaan terasa seperti istirahat saya pikir saya tidak punya alasan lagi untuk sebuah kebersamaan.”
“Dan anda merealisasikan pikiran itu,” ujar Yulia.
“Mumpung kami belum punya anak dan harta kami belum banyak,” Hamidah menjawabnya dengan canda.
“Tapi kan kalian memang belum menikah,” Yulia tidak menganggapnya sebagai kelakar. “Saya selalu tahu bahwa mendefinisikan sesuatu bisa men-simplified segalanya. Mendefinisikan bisa berarti ‘membuat batasan’. Tahu kan kata-kata ‘kalau kau sedang bingung kembalilah ke definisi awal’, tapi saya ragu apakah ini memang hanya sekedar soal definisi mendefinisikan.”
“Ini soal apa yang didefinisikan, dalam hal ini tujuan atau bisa kita sebut, harapan, memangnya anda berharap ini semua akan berakhir pada apa? Pernikahan? Entahlah, tapi umur kita belum mencapai seperlima abad dan belum ada embel-embel gelar tanda lulus strata I pada nama kita.”
“Kita masih muda, labil dan punya banyak mimpi. Lalu? Lalu apa yang saya cari? Saya mengatakan bahwa dia masih zona nyaman saya disaat yang sama ketika apapun yang dia lakukan terasa menyebalkan. Dan saya tidak mengambil langkah seribu.”
“Tidak masalah kalau anda punya toleransi tinggi terhadap cita rasa, itu pilihan. Tapi punya konsekuensi. Apakah dengan kata lain anda mengatakan bahwa sebenarnya anda tersiksa?”
“Tidak, tentu saja tidak,” Yulia berkata dengan nada kelugasan yang perlahan turun sampai akhir kalimatnya.
“Sebenarnya anda sudah tahu apa yang harus anda lakukan. Saya percaya segala hal punya cara untuk dinikmati.”
“Apakah di saat seperti ini seharusnya saya jujur pada diri sendiri?”
“Tentu saja kapanpun kita harus jujur.”
“Sebenarnya saya hanya mengharapkan kebersamaan.”
“Kalau saya,” sergah Hamidah. “Tidak bisa menikmati kopi dengan gelas plastik.”

Jumat, 25 Juni 2010

Ulasan Buku Dan Brown

Dan Brown dikenal sebagai penulis novel-novel thriller best seller internasional. Ilmu pengetahuan, tradisi kuno dan perkumpulan rahasia menjadi topik-topik kesukaannya. Saya adalah pembaca karya-karyanya, Digital Fortress, novel pertamanya yang saya baca menumbuhkan kesukaan saya pada novel-novel thriller. Dan inilah review buku-bukunya (diurutkan sampai novel paling favorit).



5. DECEPTION POINT


“Berawal dari sebuah penemuan NASA di Milne Ice Shelf membawa Rachel Sexton, seorang analis NRO, ke tengah arctic bersama Michael Tolland seorang pembawa acara tv dan tiga orang lainnya untuk memverifikasi kebenaran penemuan NASA ini. Penemuan ini sangat berarti bagi NASA setelah berbagai kegagalan yang dicapai pada penemuan sebelumnya. Kegagalan NASA ini dimanfaatkan oleh Senator Sedgewick Sexton, kandidat calon presiden yang juga ayah Rachel Sexton sebagai kampanye untuk mengalahkan Presiden Zachary Henrey dalam pemilihan presiden yang akan dilangsungkan.
Tim verifikasi itu ternyata menemukan keganjilan pada penemuan NASA dan menemukan bahwa mereka menjadi sasaran Delta Force dan satu persatu titik muslihat itu mulai memudar.
Konspirasi tingkat tinggi dan penemuan mengejutkan mengenai kehidupan diluar sana kurang lebih itulah yang ditawarkan Dan Brown dalam buku ini.”
Buku ini buku Dan Brown yang tidak terlalu membuat saya keranjingan membaca. Entah karena saya tidak terlalu suka dengan topik politik yang diusungnya atau karena saya yang sudah mulai hafal dengan pola-pola penceritaan Brown, tapi sama saja, saya tetap merasakan sensasi seru dan puas setelah membacanya. Tidak ada buku Dan Brown yang tidak patut diacungi dua jempol.



4. THE LOST SYMBOL


"Perpaduan antara dendam pada keluarga Solomon dan keinginan buta untuk memiliki piramida kelompok persaudaraan Freemasonry menjadikan Mal’akh, tokoh antagonis dalam buku ini tampak seperti psikopat. Menyamar sebagai asisten Peter Solomon, ia berhasil membawa Robert Langdon ke Washington dengan maksud memecahkan simbol tempat dimana piramida Mason itu merujuk Kata yang hilang untuknya.
Robert Langdon tidak menyangka kunjungannya ke Washington bukanlah untuk memenuhi undangan ceramah, tapi undangan lain. Undangannya berupa tangan kanan teman sekaligus tutornya, Peter Solomon yang ditaruh begitu saja di Rotunda dengan telunjuk dan jempol mengarah ke atas dan tiga jari lainnya mengepal. Langdon menemukan simbol pada tiap jari Peter, simbol-simbol persaudaran Freemasonry. Peter Solomon adalah seorang Mason derajat ke-33, derajat paling tinggi dalam persaudaraan itu.
Katherine Solomon, adik Peter Solomon dan ilmuwan dalam bidang ilmu Noetic bersama Robert Langdon mengungkap simbol kuno Mason yang ternyata tersebar di seantero Washington.”
The Lost Symbol adalah buku terakhir Dan Brown yang saya baca, dan memang baru rilis September tahun lalu. Mungkin lagi-lagi saya sudah terlalu hafal dengan pola Dan Brown jadi ada beberapa bagian yang mungkin seharusnya “adrenalin” saya terpacu tapi malah biasa saja. Tapi itu hanya di beberapa bagian buku ini. Secara keseluruhan buku ini sangat seru dan mendebarkan. Dan saya suka simbol. Saya suka kode. Makin meningkatkan interest saya dengan buku ini. Selain itu, Freemasonry adalah kelompok persaudaraan yang agak lebih familiar dibanding dengan kelompok persaudaraan manapun yang pernah dibahas Dan Brown, sehingga cerita ini terasa lebih intens. Dengan tebal 700-an halaman anda akan kaget sendiri dengan speed membaca anda yang tiba-tiba meningkat. Ya, membaca buku ini membuat anda terus menerus penasaran sehingga ingin cepat sampai di akhir halaman.

3. DIGITAL FORTRESS

“Bercerita mengenai TRANSLTR, mesin pemecah kode milik NSA. Dengan mesin ini NSA memiliki akses tidak terbatas pada akun-akun pribadi atas nama keamanan nasional. Masalah bermula pada saat direktur NSA, Commander Trevore Strathmore mendapat sebuah kode alogaritma dengan menyadap email Ensei Tankado, mantan pegawai NSA yang tidak memiliki idiologi yang sama dengan NSA. Menurut Tankado, kode ini adalah kode yang tidak terpecahkan. Buktinya, kode ini memang tidak terpecahkan, TRANSLTR yang biasa memecahkan kode dalam hitungan detik tiba-tiba membutuhkan waktu berjam-jam untuk memecahkannya dan masih tidak berhasil.
Hal inilah yang membuat Susan Fletcher, kepala Kryptografi NSA, harus lembur di hari seharusnya ia dan tunangannya David Becker berakhir pekan. Tanpa sepengetahuannya, Strathmore mengirim David ke Seville, Spanyol untuk menemui Tankado dan mengambil kode yang dipercaya terukir di cincinnya. Tapi percuma, karena Ensei Tankado telah mati dan cincin itu menghilang.
Yang menjadi masalah sebenarnya adalah, kode tersebut harus dipecahkan dalam kurun waktu tertentu, jika tidak kode tersebut akan merusak sistem keamanan penyimpanan arsip rahasia Amerika Serikat sampai anak kelas 5 SD akan bisa mengaksesnya. Quote yang saya suka dalam novel ini adalah ‘Quis custodiet ipsos custodes’, siapa yang akan mengawasi pengawas.”
Ini adalah novel Dan Brown yang menurut saya paling romantis. Kode dari David Becker untuk Susan Fletcher, tanpa lilin, atau sin cera atau sincerely muncul lagi dibuku The Lost Symbol (kode ini yang membuat saya berfikir buku ini romantis). Kodenya sungguh tidak terduga dan riset Dan Brown untuk buku ini hebat. Saya ketakutan saat membaca klimaks novel ini, Dan Brown hebat menggambarkan suasana dan membuat pembaca benar-benar merasa berada di area abu-abu NSA dan mengalami sendiri perjalanan David Becker di Spanyol.


2. THE DA VINCI CODE

“Kematian kurator Museum Louvre pecinta dualisme, Jacques Sauniere meninggalkan banyak misteri dan rahasia. Rahasia tentang Holy Grail yang memang jadi incaran banyak kolektor dan sejarahwan merupakan harta dari Priory of Sion yang harus dilindungi Jacques sebagai ketua persaudaraan ini. Robert Langdon dijadikan tersangka utama pada kasus pembunuhan kurator ini. Ia pun menjadi buruan internasional bersama Sophie Neveu, cucu sang kurator sekaligus memecahkan kode-kode Jacques Sauniere mengenai Holy Grail.
Pengejaran itu melewati berbagai macam tempat bersejarah diTambah Gambar Prancis dan kode-kode dalam buku ini sungguh total dalam dualisme-nya.
Keberadaan Opus Dei sebagai sekte katolik yang juga menginginkan Holy Grail itu menambah rumit cerita ini.”
Ini merupakan buku Dan Brown yang paling kontroversial karena menceritakan berbagai entah mitos atau fakta suatu agama. Buku ini membuat saya tidak bisa berhenti membaca, karena campuran rasa penasaran dan –lagi-lagi- ketakutan saat membaca chapter demi chapter. Kode-kode dalam buku ini juga hebat karena dualisme-nya itu. Dan lagi-lagi, benar-benar membuat pembaca merasakan petualangan itu sendiri.
Perhatian dunia terhadap buku ini tercurah dari buku-buku yang menjawab novel ini. Dan Brown dihujat banyak kalangan karena kontroversi yang melibatkan Gereja Katolik Roma. Akurasi riset Brown juga dipertanyakan oleh beberapa kalangan.



1. ANGELS AND DEMONS

“Pembunuhan Leonardo Vettra seorang ilmuwan CERN dan pencurian antimateri (energi alternatif masa depan yang bisa dijadikan senjata pemusnah) menjemput Robert Langdon untuk melakukan petualangan luar biasa. Di dada sang ilmuwan tercetak stempel lambang persaudaraan Illuminati yang menurut Langdon persaudaraan ini sudah tidak ada lagi. Tapi mau tidak mau Langdon harus memercayai keberadaan kelompok ini karena tidak ada orang di luar kelompok ini yang bisa membuat stempel ambigram tersebut dan hanya itu petunjuk untuk melacak keberadaan antimateri .
Langdon dan Vittoria Vettra, anak angkat Leonardo Vettra berangkat ke Vatican, di sana sedang dilaksanakan pemilihan Paus. Empat orang kardinal diculik dan mereka harus menghadapi kenyataan bahwa terdapat hubungan antara penculikan kardinal dengan kematian Leonardo Vettra.
Konflik utama buku ini sebenarnya adalah sinisme Gereja Katolik Roma (dalam hal ini sang kardinal) terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia.”
Hebat. Dimulai dari kode ambigram, konten cerita, pendeskripsian latar sampai kemahiran Dan Brown dalam menuturkan setiap scene cerita membuatnya patut diberi standing ovation. Saya kembali ketakutan sendiri di kamar saat membaca. Pembaca juga akan kembali dibuat kaget dengan speed membaca mereka.
Ketika baru selesai membaca novel ini, saya sangat penasaran mengenai bagaimana versi film-nya. Saya sangat penasaran mengenai stempel ambigram Illuminati tersebut dan latar-latar tempat dalam novel ini. Tapi menurut teman saya, cerita ini tidak akan mungkin di film-kan karena ceritanya lebih kontroversial daripada The Da Vinci Code (memang lebih kontroversial). Namun ketika film ini keluar, saya memilih untuk tidak menonton, karena ternyata saya takut kecewa dengan filmnya yang mungkin bisa merusak imajinasi.

Brilian dan kontroversial merupakan perpaduan pada novel-novel Dan Brown. Walaupun pola yang diterapkan dalam tiap novelnya memiliki kemiripan namun kelugasannya dalam menceritakan berbagai latar tempat, kemahirannya dalam menghidupkan suasana cerita, konten yang kaya konflik, komplikasi cerita bisa terpadu dalam satu kesatuan utuh. Ditambah kekuatan riset mendalam dan total dari Dan Brown yang membuat pembaca makin mengapresiasi karyanya. Walaupun seringkali akurasi riset Dan Brown dipertanyakan berbagai pihak, tapi walaupun seandainya riset itu tidak akurat tetap saja tidak bisa disangkal bahwa novel Dan Brown memang lebih cerdas dan passionable ketimbang novel thriller biasa.

Minggu, 27 Desember 2009

Mari Definisikan Ulang Tujuan Pendidikan

Adalah suatu fakta, bahwa fungsi sekolah sebagai tempat seorang anak mengenal berbagai macam karakter, belajar membaca i-ni i-bu bu-di telah bergeser.

Sebagai siswa kelas dua belas sma yang dituntut banyak hal, saya menyadari bahwa, saya pergi ke sekolah bukan untuk menjadi pintar, tapi untuk mengejar tujuan saya masuk perguruan tinggi negeri. Tahun terakhir saya di sma kemarin, saya akui memang bukan tahun terbaik, tapi malah tahun paling tidak produktif sepanjang hidup saya.

Pendidikan Indonesia, yang kalau mau diibaratkan sebagai kutub senama, segalanya saling tolak-menolak dari berbagai sisi. Pemerintah dengan segala kuasa dan wewenangnya telah mengubah wajah pendidikan menjadi sesuatu yang punya nilai mati, menjebak dan bisa disamaratakan. Murid, pergi ke sekolah dengan perasaan datar tanpa motivasi, gagal meraba tujuan mereka mengetahui –pH-asam-lebih-kecil-dari-tujuh untuk apa. Guru, sebagian tidak menjalankan peran mereka sebagai pendidik tapi hanya sebagai pengajar. Sekolah, yang tiba-tiba menjadi gila sertifikasi, mulai dari ISO, SBI dan segala macam status prestise omong kosong lainnya. Politikus, semakin getol saja menjadikan pendidikan sebagai alat politik. Bimbel yang semakin sadar bahwa mereka dibutuhkan langsung pasang ancang-ancang untuk meraup profit sebanyak mungkin dengan meningkatkan dependensi anak-anak akan rumus cepat, meracuni fikiran pelajar bahwa jalan pintas selalu bisa dijadikan solusi. Akibatnya fenomena seorang anak mengenal huruf a sampai z di sekolah telah bergeser. Semua telah berganti dengan semangat kejar setoran.

Sekolah Bertaraf Internasional

Selamat menempuh hidup baru untuk sekolah saya dengan status barunya. Jujur saja saya masih bingung dengan ‘taraf Internasional’ di sini itu apa. Karena dengan status itupun, saya masih belajar dalam bahasa Indonesia, hanya sesekali ujian dalam bahasa ‘bilingual’ yang jujur saja agak maksa. English day pun tidak efektif. Tapi saya lebih bingung pada tujuan dari itu semua. Untuk apa kita belajar dalam bahasa lain atau bahasa campur-campur kalau transfer ilmu dari guru ke murid tidak berhasil? Memang, untuk lebih berkembang kita harus lebih terbuka akan hal-hal baru dan punya acuan dari banyak sumber. Tapi tidakkah kita bangga menjadi orang Indonesia sampai harus maksa ulangan agama pakai bahasa orang? Ya sudahlah, status Sekolah Bertaraf Internasional cukup keren juga kok.

Ujian Akhir Nasional hampir membutakan hati pelajar Indonesia.

Adanya UN tanpa sadar telah membentuk stigma pelajar menjadi UN oriented. Belajar hanya untuk UN karena standar lulus adalah UN. Kelas dua SMA itu bagai cuti panjang untuk kami karena kami tidak punya ‘tuntutan apa-apa’. Itulah yang membuat UN menjadi ide buruk. UN menempa mental kami menjadi mental hasil akhir, belajar karena tuntutan, bukan karena kesadaran bahwa setiap manusia punya kebutuhan belajar untuk mengembangkan diri. Hasilnya, sekolah hanyalah di tahun terakhir, kelas dua SMA tinggal bersantai. Apalagi di sekolah saya urusan nilai bukanlah perkara sulit. Standar kelulusan minimal yang cukup menjulang (nilai minimal kami untuk tidak remedial adalah80) telah membantu menyamarkan ‘keadaan otak’ kami yang sebenarnya. Saat ujian tampaknya sih pengawasan begitu ketat, soal susah, dengan dua pengawas untuk tiap ruangan, wow kesannya sih udah paling oke. Jangan kaget kalau nilai asli kami banyak yang dibawah 60. Tapi untuk remedial, jangan ditanya, saya pernah remedial di lapangan takraw saking gak ada kelas yang muat, iyalah, orang yang remed satu angkatan! Bisa dinilai sendiri tingkat kondusifitas remedial seangkatan di lapangan takraw kayak apa. Dan hari pembagian rapor menjadi hari bahagia untuk semua. Para orang tua tersenyum bangga melihat angka-angka indah di rapor anak mereka tanpa mengetahui seperti apa sebenarnya cara anak-anak mereka mendapat nilai gemilang itu. Sudahlah, mari kita tutup hari-hari suram kelas dua SMA, singkat cerita setelah kami dinyatakan naik kelas, kami baru pontang-panting belajar untuk UN dan tes masuk PTN.

Issue mengenai adanya remedial untuk UN membuat saya ingin tertawa. Menurut saya kebijakan pemerintah yang satu ini mematahkan kebijakan UN sebagai standard kelulusan satu-satunya. Solusi adanya remedial bukanlah solusi bijak yang menyelesaikan masalah untuk menanggapi tuntutan kami pelajar. Karena jujur saja remedial yang berlaku pada ulangan harian saja telah mendidik kami para pelajar menjadi bermental ‘solusi jalan tengah’. Tidak perlulah remedial UN, remedial ulangan harian saja membuat kami punya excuse kalau tidak belajar, “ya udahlah remed kan gampang paling satu-dua soal, abis itu nilai langsung 80.” 

Saya setuju kalau UN tetap diadakan, karena tanpa tuntutan itupun pada dasarnya tugas kami memang belajar, karena itulah kami disebut pelajar. Tetapi keberadaan UN bukan untuk standar kelulusan siswa, menurut saya lebih relevan jika pelaksanaan UN digunakan sebagai standardisasi guru sekaligus pemetaan sekolah. Sehingga hasil akhir dari pelaksanaan UN merupakan sebuah data pemetaan kualitas sekolah sehingga pemerintah punya gambaran mengenai kualitas sekolah yang sudah baik maupun sekolah yang ‘perlu dibantu’.
Jalur masuk Perguruan Tinggi Negeri dan BOP yang mencekik leher

Beberapa tahun belakangan ini, ketika pemerintah perlahan-lahan memberikan wewenang otonomi kampus kepada PTN, menyebabkan perguruan tinggi negeri harus mencari pemasukan lebih giat. Hasilnya berbaagai ujian mandiri dengan kuota tidak tanggung-tanggung Banyak berlangsung belakangan ini. Dan sebagaimana ujian mandiri-ujian madiri pada umumnya, uang pangkal tentu lebih besar dan sangat ‘timpang’ jika dibandingkan dengan uang pangkal jalur masuk via SPMB dengan kuota lebih sedikit. Hal ini semakin menjadikan pendidikan adalah barang mewah yang tak terjangkau. 

Demikian juga dengan halnya ketimpangan passing grade pada universitas di daerah dengan di pusat. Menunjukkan dengan jelas pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia belum tercapai.

Keadaan signifikan akan Indonesia dan Jepang saat ini, dimana Jepang sudah menjadi negara industri maju sementara Indonesia masih berkutat dengan masalah kelaparan, padahal hari kemerdekaan kita hanya berselang 3 hari dari hari kehancuran Jepang. Mungkin kita pernah mendengar cerita bahwa hal yang pertama kali ditanyakan oleh kaisar Jepang setelah kekalahan negaranya adalah, “masih ada berapa guru yang tersisa?” Menunjukkan begitu concern-nya bangsa ini akan masalah pendidikan. Sementara di negara kita, pendidikan menjadi sangat rumit secara teknis.

Mari kita bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bersekolah.

Selama hampir dua belas tahun hidup sebagai murid, pernahkah kita memikirkan tentang hal apa saja yang saya dapatkan dari sekolah? Mungkin saat ini kita belajar keras untuk mempersiapkan diri menghadapi serangkaian ujian masuk PTN/PTS, UN, UAS dan lain sebagainya. Semua tujuan itu mulia dan baik apalagi disertai embel-embel untuk membahagiakan kedua orang tua. Tapi apa yang sebenarnya kita dapatkan selama dua belas tahun ini? Cara memasukkan angka ke dalam rumus? Selembar ijazah dengan nilai palsu yang sebenarnya kurang merefleksikan isi otak? 

Karena itulah, saya merasa perlu mendefinisikan ulang tujuan pendidikan, bagi murid, tujuan pergi ke sekolah. Begitu sederhana bukan? Saya takut hanya membuang-buang waktu kalau ternyata tidak ada yang saya dapatkan setelah bertahun-tahun saya sekolah. Bukankah tujuan pendidikan yang tersirat adalah mencerdaskan kehidupan bangsa? Maka sudah seharusnya setelah kita ke sekolah seharian kita menjadi cerdas. Dari tidak bisa menjadi bisa, dari otak kosong menjadi berisi. Bukan sekedar dari tidak punya nilai jadi punya nilai. 

Memang suatu pilihan bagi murid, untuk menjadikan hari-harinya di sekolah seperti apa. Apakah untuk sekedar mendapat rapor dan ijazah atau mendapat hal-hal baru yang memuaskan kebutuhan berfikirnya. Tapi bukankah sangat sayang kalau setelah cape seharian di sekolah yang kita dapatkan hanya sepaket nilai, sementara keberadaan ilmu itu sendiri malah diabaikan. Bukankah kalau kita benar-benar belajar dengan niat tulus diri kita akan diperkaya dengan hal baru sekaligus menguak kebesaran Tuhan lewat ilmu-ilmu yang kita pelajari? Maka itu, tujuan lulus UN dan dapat PTN bergengsi dengan passing grade selangit bisa dibilang hanyalah tujuan dangkal pergi ke sekolah.

Menurut saya lulus UN dengan nilai gemilang, dapat PTN bagus adalah target dan bukan tujuan. Sayang, disaat seharusnya target dan tujuan berjalan seiring, hal ini tidak terjadi di sini. Banyaknya tuntutan telah menggeser tujuan awal pendidikan. Tujuan pendidikan menurut saya adalah mewujudkan bangsa mandiri dan berbudaya. Tapi mari kita lihat banyaknya angka pengangguran, bukan berarti mereka tidak sekolah, banyak diantara mereka yang lulus strata satu alias sarjana. Tapi kenapa masih jadi pengangguran? Salah satu kegagalan pendidikan. Pendidikan kita sayangnya hanya mengajarkan teori tapi tidak cara mandiri dalam menyelesaikan masalah. Bangsa kita sudah terbiasa dengan mental konsumtif bukan produktif. Pendidikan kita, tidak memerdekakan anak-anaknya dari perasaan terjajah.

Jadi wajar saja kalau orang Indonesia banyak yang amoral.

Kalau sudah begini salah siapa?

Menurut saya kesalahan terletak pada tidak adanya keseimbangan antara satu dan lain pelaku pendidikan. Pemerintah menuntut murid dan guru dengan standar UN-nya. Murid menuntut pemerintah untuk merombak sistem pendidikan. Untuk mencapai tujuan dari pendidikan diperlukan kerja sama dari seluruh pelaku pendidikan. Semuanya harus bergerak, saling menuntut tidak akan membuat kemajuan. Jadi sebagai murid, mari kita belajar yang benar atas kesadaran sendiri, atas pemenuhan kebutuhan masing-masing. Kuak sendiri ilmu-ilmu itu sebanyak mungkin. Jangan menuntut apa-apa kalau kita belum melaksanakan kewajiban sesuai kapasitas kita sebagai murid.

Bisa dibilang penyesalan terbesar saya sepanjang hidup adalah penyesalan saya akan tahun kemarin yang sia-sia (saya menyebutnya sebagai fase menyampah di sma), seharusnya saya habiskan rasa ingin tahu saya, kehausan saya akan ilmu karena tahun kemarin adalah tahun tanpa tuntutan ini-itu. Tapi pada kenyataannya saya lebih banyak main-main di sekolah, belajar sekedarnya saja kalau mau ulangan. Padahal seharusnya banyak hal yang saya dapat, cakrawala berfikir saya mestinya sudah sangat luas setelah dua belas tahun bergumul dalam dunia penddidikan sebagai murid. Tapi memang tidak ada gunanya menyesal, dan saya berharap agar ilmu yang susah-susah saya dapat ini tidak sia-sia dan menjadi ilmu sekali pakai, seetelah ujian silakan buang.

Mari definisikan ulang tujuan kita berangkat sekolah tiap pagi. Benarkah tujuan kita hanya untuk selembar ijazah? Kenapa kita tidak mulai berniat pergi ke sekolah untuk membentuk karakter dan menjadi manusia mandiri? Bukankah nilai bisa dibuat atau dimanipulasi, tapi isi otak? Ya ampun, sesungguhnya kan ada banyak hal yang bisa kita gali dari sebuah institusi bernama sekolah.

Pengaturan Finansial

Hai para blogger yang kebanyakan sudah tidak produktif lagi karena pesona twitter yang lebih responsif ini mengalihkan perhatian. Lama tak jumpa (postingan saya akhir-akhir ini selalu diawali dengan kalimat ini ya? Saya kurang produktif ni). Entah apakah kurang sopan postingan saya setelah vacum beberapa bulan malah membahas masalah finansial. Haha. Tapi bisa dibilang ini adalah kegundahan saya sekarang.

Akhir-akhir ini saya semakin menyadari bahwa, saya sangat tidak pandai mengatur uang. Uang saya selalu menipis untuk “jajan-jajan kecil tapi banyak”. Padahal ibu saya selalu memberi uang jajan lebih. Entahlah, akhir-akhir ini terasa sulit untuk menabung. Padahal dulu saya selalu menabung walaupun hanya seribu dua ribu sehari, tapi saya bisa pastikan setiap hari saya menabung. Ya ampun, menabung bisa dibilang kebiasaan paling sehat yang pernah saya jalani. 

Jumlah tabungan adik saya 3 kali lipat dari tabungan saya. Padahal jelas uang jajannya lebih kecil dari uang jajan saya. Itu mungkin karena dia gak perlu tergoda untuk membeli nail buffer ataupun lip gloss dari katalog temannya, atau dia tidak perlu merasa tiba-tiba butuh bando untuk cuci muka, dia juga gak butuh organizer untuk menulis-nulis, kertas HVS bekas cukup untuknya, oh, sebenarnya bahkan ia gak pernah nulis-nulis. 

Perilaku tidak terencana saya ini sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. Tapi yang menjadi masalah adalah kenyataan bahwa saya belum punya penghasilan sendiri. Tidak masalah kalau saya jadi gadis hedonis nan konsumtif kalau saya sudah punya sarang uang sendiri, tapi kan penunjang hidup saya satu-satunya adalah orang tua, dan ibu saya bilang kalau semenjak muda kita harus menghargai uang, dan darimana ia datang (ibu saya selalu mengulang ceramahnya yang satu ini setiap kali melihat bapak-bapak pemungut sampah, anak muda yang berjualan aqua di jalan, ibu penjual sapu yang mederita cacat tangan dan lain sebagainya). Etos kerja, itulah yang ingin ibu saya tekankan pada saya untuk dihargai.

Belum lagi mengingat tahun depan mungkin saya akan tinggal jauh dari orang tua karena kuliah di luar kota, bagaimana kalau saya masih gegabah dalam mengurus keuangan pribadi? Mungkin saya bisa menghabiskan uang jajan saya seminggu karena tergoda beli donat selusin atau pensil mekanik warna-warni yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Tidak, itu hanya mimpi buruk.
Karena itulah saya berfikir harusnya saya punya trik untuk mengurus finansial saya mengingat saya begitu banyak jajan. Dan inilah trik yang sedang saya coba laksanakan.

1. Buat daftar perincian pemasukan dan pengeluaran

Membeli buku kecil dan menuliskan dengan rinci pemasukan dalam sebulan (uang jajan atau keuntungan bisnis kecil-kecilan) dan pengeluaran mulai dari jajan makan siang, pulsa, pengeluaran akhir minggu, pengeluaran untuk hobi apapun itu yang memakai uang dari pemasukan. Jika seandainya kita terbiasa besar pasak daripada tiang, niscaya kita akan merasa bersalah melihat perincian itu. Dan kalaupun kita sedemikian borosnya paling tidak kita tahu kemana uang kita lari dan bisa dijadikan pelajaran untuk bulan berikutnya.

2. Buat perencanaan

Perencanaan yang dimaksud bisa disebut sebagai ‘jatah’. Tentukan berapa kali kita boleh jalan bersama teman-teman beberapa waktu. Tentukan juga berapa kamu harus menabung setiap kali dapat uang jajan. Tidak perlu muluk-muluk, lima ribu rupiah rasanya cukup dan langsung sisihkan uang tabungan itu begitu pertama kali menerima uang jajan.


3. Pilih mall mahal

Ini adalah trik favorit sahabat-sahabat saya dan saya ketika suntuk menerpa, kangen melanda tapi sayang keadaan finansial sedang kurang mendukung. Carilah mall mahal untuk jalan karena uang kita tidak akan terkuras untuk membeli aksesoris atau barang apapun yang menggoda hati. “Cara kasar” kadang begitu efektif.


4. Pikir ulang sebelum membeli barang

Nasihat yang sudah sangat sering saya dengar. Pada intinya, kita harus punya alasan ketika akan membeli sesuatu. Tapi lebih baik kalau alasannya bukan harga yang murah atau ini hari terakhir sale atau modelnya lucu juga (padahal kita sudah punya lusinan barang seperti ini di rumah) tapi lebih ke saya butuh barang ini untuk ‘itu’, lalu pastikan apakah barang ini hanya untuk sekali pakai dalam acara ‘itu’ atau bisa kita pakai lagi seterusnya.


5. Bawa bekal dan air putih dari rumah

Kalau yang ini namanya sekali tepuk dapat dua nyamuk. Selain bisa menghemat pengeluaran dengan cukup efektif kita bisa sekalian memulai hidup sehat dengan membawa bekal sendiri. Kita semua tahu jajanan luar banyak yang tidak higienis dan nilai gizinya diragukan. Jadi kenapa kita tidak mulai mengganti cemilan siang kita dari makaroni goreng bersalut bumbu vetsin dan bubuk cabe dengan buah segar atau roti bikinan ibu kita. 


6. Buat rules pribadi mengenai keuangan

Misalnya prinsip ‘tidak boleh pinjam uang’ atau ‘paling tidak sisanya sekian setiap bulan’ atau ‘boleh jajan ini kalau sudah begini’ itu terserah. Bisa juga berupa ‘penghargaan’ karena sudah berhasil menabung.


7. Tentukan pula pengawas finansial pribadi

Hanya kita yang bisa menjadikan rules diatas efektif, maka jadilah disiplin dan angkat orang terdekatmu untuk jadi pengawas finansialmu kalau disiplin akan keuangan itu sulit, maka orang ini bertugas memberikan hukuman jika kita gagal menabung atau kelepasan hingga fatal. Orang-orang yang berwenang-seperti ibu- mungkin akan lebih efektif.


8. Buka rekening di Bank atau bagi uangmu dalam beberapa dompet

Membuka rekening di Bank akan mempersulit kita menghabiskan uang untuk kebutuhan semu yang tidak perlu. Bisa pilih rekening biasa atau deposito yang butuh beberapa waktu untuk dapat diambil. Terserah, semua tergantung ‘keteguhan hati’. Atau kita juga bisa membagi-bagi uang tabungan kita dalam beberapa dompet agar kita merasa ‘uang gue masih dikit’ dan menimbulkan semangat menabung. Selain itu membagi uang dalam beberapa dompet juga berfungsi ketika kita ada musibah kecopetan misalnya atau dompet yang kita bawa hilang, kita masih punya simpanan langsung di dompet lain.


9. Pekakan radar bisnismu

Yang ini hanya tips ringan untuk menambah uang jajan. Teman saya terlihat begitu brilian saat menjajakan DVD lamanya dan kartu capsa strawberry shortcake-nya yang sudah membosankan untuknya. Jadi kenapa kita tidak menilik lemari kita, mungkin kita bisa mengikuti jejak teman saya yang satu ini?


Silakan dicoba siapa tahu efektif. :)

Beberapa minggu sebelum ulang tahun saya yang ke tujuh belas, ibu saya sudah mewanti-wanti agar saya secepatnya membuka rekening pensiun di bank (yang sampai sekarang belum juga saya laksanakan), saya pikir memang penting memikirkan kesejahteraan masa tua kita nanti dari sekarang. Karena belajar dari pengalaman orang yang lebih dulu mengalami masa tua mereka, tidak jarang yang ketika muda mereka kaya dan punya gaya hidup tersendiri tapi ketika tua mereka hidup pas-pasan dan bergantung pada anak. Ibu saya bilang uang pensiun dari perusahaan tidak seberapa besar maka tetap saja kita harus menyiapkan dana masa senja kita dan punya investasi.

Impian saya untuk masa tua saya adalah tinggal di desa dan di sana saya hanya berdoa juga melakukan hoby-hoby yang sekarang terpaksa saya abaikan dulu (bermusik, menulis seharian, melukis, melatih anak-anak teater dan lain sebagainya). Karena itulah saya harus menabung dari sekarang. Saya takut masa tidak produktif saya nanti diwarnai hal-hal menyeramkan yang tidak sesuai keinginan. Mari kita wujudkan masa tua yang harmonis dan bebas hutang.

Sabtu, 25 Juli 2009

Hai hai hai

Lama gak posting. Blog ini sungguh terbengkalai. Sebenernya saya pengen nulis banyak, mulai dari liburan spontan dan bla bla bla, tapi gak sempet-sempet. Maklum, saya lagi "mengencangkan ikat pinggang". Kalo ada waktu sedikit, setelah dipikir-pikir emang lebih baik buat belajar. Jadi yah, sekarang saya sering pulang telat. Dan gak ada waktu untuk menunggui speedy yang lemot sangat ini untuk sekedar menulis keluhan di blog ini.

Pengen ngeluh. Hohohoho. Walaupun bisa dibilang ini baru stretching, prolog kelas tiga ini "lumayan" juga lo. Dimulai dengan intro yang lumayan sesuai keinginan. Sekelas lagi bersama Dinda dan Pramud. Sedih deh, gak bisa pulang bareng para LC (genk-26-turun-superindo-kecuali-gue-turun-MM) lagi gara-gara jadwal les yang tabrakan. Ini gara-gara ILP, haha. Dan niat untuk sedikit lebih rajin yang mulai membuahkan hasil. Sekarang gue udah gak terlalu blank loo sama fisika. hehe. Dan ternyata gue mesti mengatur ulang jadwal les ini-itu bla bla bla. Dan juga sepertinya memperbaiki pola makan kalo gak mau disangka anoreksia beneran. Oh iya, sampe dua minggu ini, gue belom pernah tidur di kelas! Alhmadulillah. Yah pokoknya secara keseluruhan  prolognya mengisyaratkan tahun ini akan lebih "mudah untuk dinikmati" daripada tahun kemaren. Amiin.

Bingung mau nulis apa lagi. Sebenernya gue banyak mendapatkan banyak pandangan-pandangan baru, tapi lagi mandek sekarang, ya udahlah. Biarin aja postingan ini jadi ngalor ngidul.

Oh iya, seminggu lalu 2 hotel di mega kuningan di bom. Ckckckck. Jujur, gue jadi agak parno. Memang susah dan merepotkan dan membuat trauma kalo udah berurusan dengan orang-orang dengan campuran idealis-anarkis-berani mati ini.

Hm... apa lagi ya. Oh iya, gue gak nyangka perolehan suara JK serendah itu. Gue kira buaian janji pro rakyat Mega gak akan menolong jumlah suaranya dan kalo sampe ada putaran kedua yang bakalan masuk SBY-JK. Ah yasudahlah ngomongin politik bete juga lama-lama.

Anyway, gue bingung mau nulis apalagi. 

Doain gue ya biar tahun ini happy ending. :)

Jumat, 12 Juni 2009

Perubahan dan Zona Nyaman

Kalo yang ini terinspirasi dari ‘Tidak Ada yang Konstan’ di gini-arimbi.blogspot.com (visit ya). Satu hal yang membuat saya tidak nyaman, perubahan drastis. Bahkan saya cenderung takut. Lalu apa yang biasanya dilakukan orang-orang saat merasa tidak nyaman?Menghindarinya kan? Tapi sayang, saya gak mungkin bisa menghindari perubahan. Karena itu takdir. Itu memang sesuatu yang semestinya terjadi dan harus kita hadapi (kalau kita cukup berani).

Kalo diibaratkan, zona nyaman kita adalah cahaya lurus konstan. Dan perubahan adalah media kasar yang menghasilkan pemantulan baur. Dan difusi cahaya inilah ‘zona nyaman’ kita sekarang, membaur, tidak teratur,mengejutkan dan membuat kita tidak nyaman.

Perubahan, seringkali lebih merupakan sesuatu yang bukan kita inginkan. Tapi yang lebih berat lagi sebenarnya menghadapi keadaan fluktuatif dan proses adaptasi terhadap perubahan itu sendiri. Lalu, bagaimana cara menghadapi perubahan? Ikut berubah. Ya, selama itu bukan perubahan mendasar seperti karakter. Mungkin misalnya merubah cara pandang dan cara menyikapi sesuatu yang berubah itu. Karena kalau kita terus menerus statis, tetap terkungkung pada masa lalu dan zona nyaman lama kita yang bakal ada hanyalah derita-derita-dan derita. :p . (menginginkan sesuatu yang sudah tidak ada –karena berubah- memangnya apa yang bakal terjadi karena itu?)

Oleh karena itu, karena perubahan terkadang menyakitkan, saya jadi memotivasi diri saya sendiri untuk tidak merasa terlalu nyaman bahkan di dalam zona nyaman saya sendiri. Karena suatu hari, pasti zona nyaman kita akan berubah menjadi bukan zona nyaman. Intinya, saya cuma bersikap waspada dan menjaga jarak. Ibaratnya jangan terbang terlalu tinggi kalo gak mau jatuh terlalu sakit. Guru saya pernah bilang ketidaknyamanan itu kunci kesuksesan. Mungkin maksudnya setiap orang yang sudah berhasil memang harus menghadapi fase ‘tidak nyaman’. Karena itu, jadi, ya hadapi saja perubahan. Tapi sebagai tindakan preventif, saya merasa lebih baik tidak usah merasa terlalu nyaman sekalian.

Tapi lepas dari itu semua, saya percaya time heals anything. Suatu saat mungkin kamu harus terpisah dari zona nyaman kamu, tapi perlahan-lahan kamu akan membangun zona nyaman baru-bahkan tanpa kamu sadari-. Dan saat kenyamanan baru mulai terbentu, bahkan kamu akan lupa pernah merasakan kenyamanan yang sebelumnya. Yah, bersyukurlah kita punya titik jenuh. Otak kita punya titik jenuh dan merasa lelah kalau terus-terusan memikirkan hal itu saja. Karena sebenarnya adalah suatu kebutuhan bagi diri kita sendiri untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang lebih relevan. Saya percaya kok, selama kita gak menutup diri.

Have a Nice Day

Setelah membaca postingannya Dijelennon di volgoriancabalsette.blogspot.com (visit), yang berjudul Hava a Nice Day yang bercerita tentang hari buruknya. Oke, kita semua punya hari buruk. Atau, sesuatu yang kita sebut hari buruk. 

Hm.. pengen bilang ke diri sendiri sebenernya “have a nice day”, tapi di postingan ini saya lagi pengen ngeluh. Minggu-minggu ini bener-bener minggu –merasabersalahkalaubersantai-. Yap, UB semester 2. Saya berharap, berharap dan berusaha buat bisa ngejadiin UB ini sebagai pemanasan untuk persiapan menghadapi semester-semester krusial yang udah di depan mata. Jadi, saya udah ambil ancang-ancang jauh-jauh hari sebelumnya. Lebih jauh dari yang biasa saya lakuin. Belajar-belajar-belajar. Dan hasilnya di minggu-minggu dimana semua orang menjadi sangat individualis ini (kesialanmu adalah keberuntunganku [kalau itu tidak terlalu kasar]), yang ada saya malah stress. Well, saya gak tahu si stress itu apa, tapi gejala fisik kayak berat badan menyusut, ‘siklus’ yang kacau, gak bisa tidur nyenyak, heart beat, gampang sakit perut, well… itu namanya stress bukan? (have a nice day! –or week?-)

Diawali dengan diare yang melanda akhir minggu lalu (have a nice week!). Sukses memundurkan acara-belajar-akhir-pekan- yang seharusnya jadi waktu paling efektif untuk belajar sebelum UB. 

Terus yang mengecewakan dan bikin down, udah belajar tetep aja remed (have a nice week!). Minggu ini benar-benar titik gue-tukang-putus-asa-merasa-benar-benar-buruk-dan-ketakutan-akan-masa-depan.

Well… sebenernya dari semua keburukan (atau apa yang gue sebut buruk) itu bukan takdir, itu adalah kesalahan yang masih bisa diperbaiki. (Alhamdulillah)
Dari ‘keburukan’ pertama saya –stres gak jelas beserta akibatnya-. Itu sebenarnya cuma bentuk kompensasi untuk saya karena gak siap UB. Itu adalah harga-yang-harus-saya-bayar- dari sikap apatis saya terhadap urusan sekolah selama ini. Lalu akhirnya kepanikan itu pun melanda dan menyajikan beragam akibat.

Terus, masalah diare itu. Ini pelajaran untuk kita semua. Perhatikan apa saja yang masuk ke perut kamu terlebih kalo itu udah H-7 UB semester 2 (atau H-7 simak-UI, H-7 utul UGM, H-7 kawinan kakak atau H-7 acara penting kalian). Karena disaat diare itu melanda kamu gak akan bisa mikirin konsentrasi. Kamu gak akan bisa mikirin efisiensi mesin Carnot karena yang ada di otak kamu cuma kloset-new diatabs-kloset-neo entrostop-kloset-oralit. Jadi berhentilah makan makanan ‘sintetis’ dan berhenti makan ‘keripik radang tenggorokan’. (fyi, keripik yang sarat akan MSG dan mechin ini selain membuat amandelmu bertambah besar juga bisa menurunkan daya intelegensi).

Dan tentang remed tiada batas itu. Hm, dear, jangan mulai bertingkah kaya 'pengacausistemyangberkuasa' dan antek-anteknya yang cuma fokus pada hasil akhir dan gak peduli sama prosesnya. Terserah lo mau nyontek, ngebet atau usaha keras yang penting hasil akhir lo memuaskan. Kali ini tolong jangan terjebak sistem. Tapi ternyata selama ini saya begitu memikirkan hasil akhir. Makanya selalu baru belajar keras pas udah deket-deket hari H. Padahal kalo yang kita cari cuma sekedar nilai, dengan sedikit pengetahuan tentang hack-mengehack, lo bisa dengan mudah menyabotase nilai-nilai di SAS, abis itu lo bisa tenang-tenang aja walaupun otak lo gak ada isinya. Buat apa kita sekolah kalo kayak gini? Kayak yang saya kutip dari sebuah artikel di kompas "...bahwa pendidikan bukan hanya sekedar masalah manajerial saja-sampai harus disertifikasi dengan ISO- tetapi bagian dari proses kebudayaan guna menumbuhkan kepercayaan dan integritas diri sebagai individu dan warga bangsa negara. Dengan demikian pendidikan akan melahirkan manusia yang memiliki kepercayaan diri tinggi untuk hidup merdeka. "  Jadi mulai sekarang, lupakan belajar kebut semalam kalau ingin pintar. 

Sebenernya hari buruk, nasib buruk or whatever you call it itu gak ada. Itu semua cuma sesuatu yang harus kita tanggung karena kita melakukan kesalahan. Saya percaya dengan pepatah lama ‘apa yang kamu tanam, itu yang kamu petik’ itu bener banget walaupun terdengar klise dan begitu teoritis. Dan mari mencoba untuk tidak mengeluh, di luar sana lebih banyak orang-orang yang hidup lebih susah.

Senin, 04 Mei 2009

Waktu yang Berkualitas

Hari ini saya kebingungan milih. Ikut bonyok yang ngajak pergi, latihan drama atau jalan sambil merancang film dokumenter bareng temen-temen smp. Akhirnya, menimbang saya udah lama gak ketemu mereka (gak segitu lamanya juga si) dan rasa tanggung jawab sama temen-temen yang lain, akhirnya saya milih ketemu temen smp dan latian drama setelahnya (walaupun agak telat, dan hampir batal karena hasutan Nikki dan Amel).
Biar abis ketemu bisa langsung gampang ke rumah temen, saya mutusin buat ketemuan di castle burger yang deket sama Persada. Dan di sanalah saya, menunggu teman-teman yang masih terjebak kemacetan di kemang sambil berfirasat apa mending gak latian drama sekalian... Hari ini saya mau ketemu Nikki (yang hobbi akting) dan Amel (yang suka ngatain saya dan Nikki aneh juga lebay, whereas, she does too.haha). Setelah beberapa lama nunggu sambil kertas menu tetap di meja, tiba-tiba… dari arah luar datang si Zahra temen sekelas yang harusnya latian drama juga kaya saya tapi dia izin mau ke kawinan sepupunya.
Zahra : Lah Rin, gak latian drama? (nada agak kaget)
Gue : Hm, hm, ya ntar, emang udah mulai ya? Hehe, mau janjian dulu sama temen. (yah, ke-gape sedikit niatan bolosnya)
Zahra : Berdua aja?
Gue : Enggak, bertiga
Zahra : Oooo (bla-bla-bla akhirnya Zahra balik lagi ke mejanya)
Dan saya nunggu lagi. Tapi berkarya harus tiada henti. Jadi sembari menunggu saya ngegambar bapak-bapak di meja seberang di belakang kertas menu. Sampe akhirnya mereka pada dateng, (komentar pertama Nikki : sok gambar sketsa ni ah.haks) sambil ber- “Haaalllo Ariiin!!” agak keras. Dan emang dasar temen-temen saya ABG tulen jadi wajar kalo pada gak nyadar suara mereka membahana seluruh castle pas nyapa saya itu. Sampe si Zahra yang bisa dibilang anak paling normal dan realistis di kelas saya nanya “Itu temen-temen lo rin?”
Ya sudahlah, seraya mereka dateng langsung duduk sambil mulai menghasut saya buat gak usah latian drama masih dengan ke-ABG-an itu (baca : suara bahana). Terus kita nelepon si Ila(yang pengen jadi sutradara) buat ngajakin kumpul sekalian berhubung kita ngumpul emang niatnya ngomongin film dia eh dia malah gak dateng katanya lagi banyak tugaslah apa. Ya sudah akhirnya kita mengobrol-ngobrol, (diselingi menghasut saya lagi dan lagi) mulai dari ngomongin merk rokok si *beep* yang beralih dari Marlboro merah ke Marlboro apa gitu gue lupa (baca : hal gak penting) sampe curhat-curhat biasalah cewe (baca : hal penting).
Dan sampai makanan kita habis, mereka masih menghasut saya sekarang lengkap memberikan alternatif alasannya juga mulai dari bilang aja mau jenguk temen sakit (ini kebohongan, saya gak mau) sampe alasan sinetron “karena-kamu-mantanku“ (terlalu dramatis, bisa-bisa saya diketawain yang punya rumah) tapi saya memutuskan untuk dateng dulu ke rumah temen saya dan melihat keadaan. Dan bagai gayung bersambut (apa dayung bersambut?) ternyata anak-anak yang lain belom pada dateng, dan akhirnya saya jalan dulu bareng temen-temen saya itu.
Mengingat krisis financial yang sedang mendatangi kami bertiga secara bertubi-tubi, akhirnya kita memutuskan untuk jalan ke Senayan biar gak tergoda beli-beli. Ya tergoda si tergoda, cuma gak sanggup beli aja kalo gak ada bonyok.
Tapi tak disangka tak dinyanya tinggal 1 km lagi masuk tol dalam kota Amel dapet telpon dari bokapnya, “Amel, jemput kakak di Bandung sekarang.” Waaa… batalah seluruh rencana kita, akhirnya kita puter balik pulang lewat kalimalang yang ternyata padat banget. Udah mana panas pula. Di jalan kita bikin video yang (harusnya) berisi motivasi dan support buat Ila untuk jadi sutradara yang bakal dikasih liat ke bonyoknya biar jalan Ila buat jadi sutradara bisa dibolehin sama mereka.
Tapi tapi tapi, berhubung itu jalanan macet parah ditambah silau dan bosen isi videonya jadi ngalor ngidul ngomongin mantan-mantan pacarlah, curhat colonganlah udah mana kelepasan ada joget-jogetnya segala. Jadi batalah niat suci kami mendukung Ila.
Dan… setelah muter di Radin Inten, si Amel dapet telpon lagi dari bokapnya, “Mel, kakak udah di jalan, boleh main lagi. “ Waaa… kenapa gak daritadi om? Udah masuk Kalimalang ini... Ya mau aja balik lagi tapi udah keburu males liat jalanan arah baliknya. Ya sudah akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke arah pulang tanpa tujuan jelas. Eamng niatnya dari awal cuma pengen kongkow sambil ngomongin film. Di jalan akhirnya kita bikin video-video lagi sampe part III, foto-foto dan Nikki liat kanan-kiri semangat banget nyuruh gue cari pacar baru dan nemuin cowok di Kia Sporty item sebelah. Kocak juga ngeliatin orang lagi bete nunggu macet, mulai dari bolak-balik liat jam (kayaknya telat janjian) sampe garuk-garuk kepala (kayaknya ketombean). Semoga aja tuh cowok gak nyadar kalo dari tadi di shoot.haha. Emang hari ini penuh dengan keenggakjelasan.
Dan akhirnya kami terdampar di mall Nyari Fanta Aja Susah Dan Demi Pertimbangan Beberapa Hal Lebih Baik Namanya Kami Samarkan (sebut saja Mall NFASDDPBHLBNKS). Nyari minum sama makan dimsum. Di mall NFASDDPBHLBNKS ternyata ada toko buku second dan saya nemuin buku yang ada karya-karyanya Affandi dan memang Affandi sang maestro ekspresionis, karya-karyanya memang tiada duanya. Keren deh, pokoknya. Saya inget pernah soksok nyoba gaya dia, tapi jadinya malah abstrak gagal gak jelas. Ngelukis penari bali, malah dikira Nyi Roro Kidul sama ade’ saya. Dan akhirnya setelah puas ini-itu gak jelas, kita balik ke aktifitas masing-masing lagi. Dan saya balik ke rumah temen di Persada buat bikin bunga-bungaan dari kertas crepe seharga 7000/lembar buat drama (Apid salah beli, padahal ada yang 1000an harganya).

Emang bener ya, kalo bareng temen semua berasa menyenangkan. Walaupun yang kami lakukan hanya spontanitas-spontanitas dan berbagai ke tidak jelasan dan tanpa tujuan, tapi spending time bareng mereka membawa angin segar bagi kehidupan yang menjenuhkan ini (saya bosan rutinitas, bu) dan lumayan mengistirahatkan saya dari atmosfer tegang di sekolah dan kehidupan edukasi saya yang berantakan akhir-akhir ini (nilai turun, nilai remed gak masuk, SAS eror, tugas ini-itu, ulangan yang boleh dibawa pulang –kurang cacat apa lagi sekolah gue?-, waktu belajar yang bisa dibilang gak efektif akhir-akhir ini mana kalo di sekolah bawaannya pengen tidur mulu). 
Waaa… I love this quality time!