Selasa, 19 Februari 2013
Minggu, 04 Maret 2012
It Heals
Time goes.
People change.
Relationship fluctuate.
Memories fly. Half stay.
I grow. And understand..
..then take it easy.
Rabu, 09 Februari 2011
Pecah Perang
"Papa, bude habis dari Belanda ya?" tanyanya pada papa saat bude pergi ke dapur untuk mengambil minum.
"Iya."
Mata Nina mendelik tidak suka, "Ngapain bude ke sana? Belanda kan pernah menjajah kita?!" katanya sok tua.
"Iya, tapi kita kan sekarang sudah damai. Sudah berteman lagi."
Nina diam dan manggut-manggut. Dia pernah berfikir mungkin budenya pergi ke Belanda untuk memukuli orang-orang Belanda yang pernah menjajah Indonesia karena ia-pun merencanakan hal itu kala-kalau suatu hari dia pergi ke Belanda.
Nina benci penjajah. Karena kata ibu guru di TK, penjajah membuat rakyat Indonesia menderita. Tapi memangnya anak kecil tahu apa soal menderita? Baginya menderita ya menderita. Menderita itu tidak enak.
Tapi ayahnya bilang, kita sudah berdamai, jadi Nina tidak membenci Belanda lagi.
Nina memercayai ayahnya. Baginya papa selalu benar karena papa pintar. Bahkan Nina percaya kalau papanya akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan pembawa acara dan membawa uang satu milyar kalau-kalau papa ikut kuis di televisi yang terkenal itu .
"Iya..." nenek Nina memang selalu mendongeng sebelum mereka tidur ketika mereka saling menginap.
"Jadi nanti ada perang dunia ke-3 dong?" tanya Nina penuh rasa ingin tahu.
"Haha..." nenek Nina tertawa kecil, "Tidak mungkin, karena kita kan sudah berdamai." Perasaan kuatirnya sedikit terobati.
Nina manggut-manggut. "Kayak apa rasanya tinggal di zaman perang nek?"
"Hmm," gumam nenek. "Dulu nenek tinggal berpindah-pindah bersama mama dan papa nenek." Nina manggut-manggut lagi. "Sudah sekarang Nina tidur, nenek juga sudah capek bercerita."
Tapi Nina kecil tidak bisa tidur, bahkan sampai neneknya tertidur pulas.
"Nek..." gumam Nina pelan, "Nenek."
"hmm..?" bahkan neneknya tidak membukakan mata.
"Bener kan perang dunia ke-3 gak akan ada?"
"Iya..."
Baru Nina bisa tidur.
Kekecewaan pertama Nina adalah ketika ia diberi tahu kalau matahari tidak muncul di sela gunung dengan satu sungging senyum.
Dan ketika ia menyadari bahwa mungkin saja papa tidak bisa memenangkan kuis dan membawa pulang uang satu milyar, ia sudah tidak seberapa kecewa.
Nina menggenggam remot mengganti-ganti saluran tv-kebiasannya kalau sedang tiduran setelah mulai puber-. Nenek sudah jarang menginap, sudah jarang mendongeng. Nina pun sudah jarang menginap di rumah neneknya. Dia sekarang lebih suka menonton tv kalau akan tidur. Saluran tv-nya daritadi menayangkan berita soal kerusuhan di banyak negara. Kota porak-poranda. Wartawan-wartawan terjebak. Orang-orang terluka. Tempat-tempat jadi rebutan.
Benda mati hancur. Benda hidup menderita.
Mungkin dendam itu laten,
mungkin rakus itu mendarah daging,
mungkin kita memang binatang.
Nina mematikan tv dan menarik selimut, gumamnya, "mungkin perang dunia ke-3 bisa saja meletus."
Dan ia sudah tidak kecewa.
Selasa, 25 Januari 2011
Pantai
Sambil minum robusta, pantai tetap saja pantai
punya garis terlalu panjang,
pohon tinggi tapi tidak bikin rindang.
Kita Belum Sarapan
Aku sudah bilang, Dara
kalau suka tidak perlu tunjuk dada
Biar Bara tidak bisa lihat. Apalagi injak.
Lagipula, hari masih pagi, Dara, kita belum lagi sempat sarapan.
Aku sudah bilang, Dara
cinta untuk Bara jangan terlalu membara.
-Amara pada Dara
Kamu rela jadi setan?
Apakah kamu rela jadi setan,
kalau Tuhan memberimu bidadari paling cantik di surga?
Apakah kamu rela jadi setan,
kalau dosaku terlalu banyak hingga harus masuk neraka?
-Dara pada Bara
Jumat, 09 Juli 2010
VIRUS
Jumat, 26 Desember 2008
Aku Sedang di Kamar
Aku sedang di kamar ketika berpendapat dunia terlalu kejam
Karena membuatku seperti sendiri dan teman-temanku membuatku muak!
Karena ga mengerti bahwa aku butuh dukungan serta pelukan dari seorang teman
Bukan ocehan, olok-olok atau gosip murahan
Aku sedang di kamar ketika berfikir, "Bagaimana kalau aku sudahi semuanya?"
Toh, semua akan berakhir sama?
Aku sedang di kamar ketika berfikir, "Bgaimana caranya?"
Aku bisa mengemudi dengan kecepatan tinggi,
lalu kutabrakkan pada sebuah pohon
dan aku mati di antara semak-semak
Atau kupotong saja nadiku?
Lalu darah menderas dari arteriku
dan aku mati, tenggelam dalam ceceran darah
Mungkin aku bisa menjerat leherku
Lalu wajahku akan membiru
dan aku mati dalam kekosongan
tapi aku terlalu banyak berfikir...
Aku sedang di kamar ketika berfikir, "Aku tidak bisa"
Aku tidak sanggup membayangkan wajah kecewa ayahku
jika aku benar-benar melakukannya
Atau membuat ibuku tidak berhenti menangis
jika aku benar-benar mati
Aku sedang di kamar ketika tersadar, ini terlalu berharga untuk dilepas
dan memang harus dijalani..
dengan atau tanpa teman
dengan atau tanpa HIV
Ini Bangsaku?
Waktu aku kecil, ayahku yang seorang raja bilang,
"Bangsa ini, bangsa yang makmur penuh dengan pohon rindang"
Saat aku bertanya, "Seperti apa bangsaku?"
Ibuku yang seorang ratu berkata,
"Banyak kebun di kaki gunung, dan rakyatmu tidak pernah kelaparan"
Saat aku bertanya tentang keadaan lainnya
Dayang-dayangku berkata,
"Indahnya bangsa ini seperti permadani hijau maha luas yang saangat indah, bahkan lebih indah dari permadani terindah di istana"
Saat aku minta jelaskan bagaimana keadaan negeriku kalau dilihat dari atas?
Saat aku beranjak besar, aku makin pensaran
Aku ingin duduk-duduk di bawah pohon rindang dan berlarian di kebun kaki gunung atau tidur di atas permadani hijau
Lalu aku mulai berjalan,
tapi tak temukan pohon rindang..
Bukan meranggas, tapi gundul!
Aku kembali berjalan,lalu melihat sekelompok manusia sedang berkumpul
Bukan diskusi, tapi adu bicara bahkan bermain pukul!
Dan saat aku terbang, aku tak lihat permadani hijau itu?!
Yang kulihat hanya... tanah cokelat gersang!
Aku bingung, mana bangsaku? Yang mereka ceritakan itu!!
Aku berteriak, bangsaku hilang...! Bangsaku hilang!
Mana bangsaku?
Yang katanya indah, yang katanya damai..?
Jadi, ini bangsaku?
Kamis, 18 Desember 2008
mari tertawa sarkastis untuk kita
aku sudah lewat penyebrangan zebra,
jalanku sudah sempoyongan, lengkap dengan bungkuk
Menggoyang topi dengan baju lusuh dan mata sayu
Itu pandangan minta mati, bukan receh!
67 tahu, 4,5 bulan
habis di bus kota dan jalanan
separuh dengan "gitar" usang
separuh hanya menengadah
tinggal menunggu kiamat.haha
lalu surga atau neraka,
m-a-n-a-a-k-u-t-a-h-u
memang aku hidup untuk menghadap hidup,
tapi hidup tak pernah hidup terhadap apa aku mau hidupku menghadap
aiy, lihat itu ada mobil
aku lewat penyebrangan zebra
aku berjalan sudah sempoyongan
lengkap dengan bungkuk
ya!bagus! mobilnya makin dekat
bajuku mendukung karena lusuh
mataku berkerut sayu
ah, sedikit lagi mobilnya menabrakku.
aku tinggal menggoyang topi.
aku bersiap mati...
tapi bukannya kudengar tabrakan, malah decitan
huh!dia sempat injak rem pula
mataku yang rapuh makin sayu
topiku makin kugoyang
lalu,
sekeping receh jatuh ke topiku